Make a blog

beritabgr10

1 year ago

Pajajaran Dikepung Pusat Komersil

Pesatnya era pembangunan di Kota Bogor membuat warga masyarakat semakin tersisihkan akibat dikepung oleh pembangunan komersil kelas elit, mulai pembangunan perumahan real estate, pusat kuliner, pusat perbelanjaan, hotel dan sebagainya.

Seperti Kecamatan Bogor Timur, yang membawahi 6 kelurahan memiliki luas wilayah 1000 hektar dan memiliki jumlah penduduk mencapai 90 ribu jiwa. Sejauh ini, sektor pembangunan terus mengenjot nampak tidak memberi celah jika melihat lahan kosong.

Padahal setiap wilayah memiliki kewajiban untuk menyediakan fasilitas prasarana sosial dan fasilitas prasarana umum (fasos-fasum) selain itu juga harus memiliki ruang terbuka hijau (RTH) sesuai aturan yang sudah ditentukan.

Seperti terlihat disepanjang jalur Jalan Pajajaran, yang nampak sudah disesaki menjadi area komersil, belum lagi banyaknya pembangunan hotel-hotel berbintang yang menjulang tinggi.

Mengenai hal itu, Camat Bogor Timur Sujatmiko Baliarto enggan berkomentar banyak, dirinya mengaku tidak memiliki data secara lengkap, mengenai berapa banyak restoran, hotel, perusahaan produksi, sarana pelayanan umum baik gedung kesehatan maupun lembaga pendidikan.

Dirinya juga mengaku tidak tahu mana saja zona-zona yang merupakan untuk perumahan, pelayanan ataupun jasa perdagangan.

“Kalau dilihat dari luas dan kondisi wilayah, memang sudah tidak ada lagi lahan-lahan kosong untuk dibangun perumahan, tapi terkait data detilnya harusnya konfirmasi ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda),” kata pria yang akrab disapa Jatmiko itu kepada heibogor.com, Rabu (19/08/15).

Sementara Camat Bogor Utara, Asep Kartiwa yang merupakan pemangku kebijakan dan pemilik wilayah kawasan Pajajaran juga tak banyak berkomentar dengan alasan sedang ada kegiatan di luar "Saya sedang ada kegiatan di Kedung Halang, kalau ada waktu silahkan ke kantor,” kata Asep saat dihubungi melalui ponselnya.

Sementara Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor Yus Ruswandi mengatakan, untuk zonasi itu sudah ditentukan dalan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).

“Ya kita semua tahu, di kawasan pajajaran itu sudah over untuk pembangunan terlebih untuk bangunan perumahan, makanya dalam RDTR akan lebih jelas zona-zonanya, nanti mana saja zona yang menjadi Wilayah Pusat Pelayanan (WPA), Wilayah Perdagangan dan Jasa (WPJ) dan sebagainya,” kata Yus saat dikonfirmasi di DPRD Kota Bogor.

Yus menambahkan, dengan demikian pembangunan untuk kawasan perumahan lebih baik beralih ke wilayah wilayah lain.

“Kawasan Pajajaran itu sudah tidak ada lagi lahan yang layak, kalau untuk pembangunan perumahan kan memerlukanblahan yang luas dan yang memadai, ya jangan dipaksakan, apalagi sampai dipaksakan mendapatkan izin,” jelasnya.

Dalam hal ini, pihaknya menegaskan kepada SKPD dalam pemberian izin untuk perumahan, harus benar-benar sesuai ketentuan zonasinya.

“Makanya kami imbau dan kami sarankan, supaya pembangunan kawasan hunian dibangun secara vertikal, dibangun ke atas karena Kota Bogor sudah tidak lagi memiliki lahan yang luas untuk kawasan perumahan,” pungkasnya.

Sumber: Pajajaran Dikepung Pusat Komersil, Pajajaran Dikepung Pusat Komersil, Pajajaran Dikepung Pusat Komersil

1 year ago

Pajajaran Dikepung Pusat Komersil

Pesatnya era pembangunan di Kota Bogor membuat warga masyarakat semakin tersisihkan akibat dikepung oleh pembangunan komersil kelas elit, mulai pembangunan perumahan real estate, pusat kuliner, pusat perbelanjaan, hotel dan sebagainya.

Seperti Kecamatan Bogor Timur, yang membawahi 6 kelurahan memiliki luas wilayah 1000 hektar dan memiliki jumlah penduduk mencapai 90 ribu jiwa. Sejauh ini, sektor pembangunan terus mengenjot nampak tidak memberi celah jika melihat lahan kosong.

Padahal setiap wilayah memiliki kewajiban untuk menyediakan fasilitas prasarana sosial dan fasilitas prasarana umum (fasos-fasum) selain itu juga harus memiliki ruang terbuka hijau (RTH) sesuai aturan yang sudah ditentukan.

Seperti terlihat disepanjang jalur Jalan Pajajaran, yang nampak sudah disesaki menjadi area komersil, belum lagi banyaknya pembangunan hotel-hotel berbintang yang menjulang tinggi.

Mengenai hal itu, Camat Bogor Timur Sujatmiko Baliarto enggan berkomentar banyak, dirinya mengaku tidak memiliki data secara lengkap, mengenai berapa banyak restoran, hotel, perusahaan produksi, sarana pelayanan umum baik gedung kesehatan maupun lembaga pendidikan.

Dirinya juga mengaku tidak tahu mana saja zona-zona yang merupakan untuk perumahan, pelayanan ataupun jasa perdagangan.

“Kalau dilihat dari luas dan kondisi wilayah, memang sudah tidak ada lagi lahan-lahan kosong untuk dibangun perumahan, tapi terkait data detilnya harusnya konfirmasi ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda),” kata pria yang akrab disapa Jatmiko itu kepada heibogor.com, Rabu (19/08/15).

Sementara Camat Bogor Utara, Asep Kartiwa yang merupakan pemangku kebijakan dan pemilik wilayah kawasan Pajajaran juga tak banyak berkomentar dengan alasan sedang ada kegiatan di luar "Saya sedang ada kegiatan di Kedung Halang, kalau ada waktu silahkan ke kantor,” kata Asep saat dihubungi melalui ponselnya.

Sementara Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor Yus Ruswandi mengatakan, untuk zonasi itu sudah ditentukan dalan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).

“Ya kita semua tahu, di kawasan pajajaran itu sudah over untuk pembangunan terlebih untuk bangunan perumahan, makanya dalam RDTR akan lebih jelas zona-zonanya, nanti mana saja zona yang menjadi Wilayah Pusat Pelayanan (WPA), Wilayah Perdagangan dan Jasa (WPJ) dan sebagainya,” kata Yus saat dikonfirmasi di DPRD Kota Bogor.

Yus menambahkan, dengan demikian pembangunan untuk kawasan perumahan lebih baik beralih ke wilayah wilayah lain.

“Kawasan Pajajaran itu sudah tidak ada lagi lahan yang layak, kalau untuk pembangunan perumahan kan memerlukanblahan yang luas dan yang memadai, ya jangan dipaksakan, apalagi sampai dipaksakan mendapatkan izin,” jelasnya.

Dalam hal ini, pihaknya menegaskan kepada SKPD dalam pemberian izin untuk perumahan, harus benar-benar sesuai ketentuan zonasinya.

“Makanya kami imbau dan kami sarankan, supaya pembangunan kawasan hunian dibangun secara vertikal, dibangun ke atas karena Kota Bogor sudah tidak lagi memiliki lahan yang luas untuk kawasan perumahan,” pungkasnya.

Sumber: bogor, kuliner bogor, berita bogor

1 year ago

Ayo Cegah Pelajar Bawa Kendaraan ke Sekolah

Fenomena banyaknya pelajar yang membawa kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat ke sekolah menunjukkan bahwa pemerintah sebagai regulator kurang mampu mengkampanyekan pentingnya transportasi publik yang aman, nyaman, murah dan kegagalan sistem pendidikan dalam mengedukasi siswanya.

Termasuk peran guru yang juga semakin meluruh dihadapan siswanya. Hal tersebut dikatakan oleh pengamat pendidikan Tantan Hermansah, ia menjelaskan diperlukan peran dari berbagai pihak agar para pelajar tidak membawa kendaraan ke sekolahnya.

Larangan membawa sepda motor ke sekolah tersebut menurut dia diberlakukan demi keselamatan siswa sendiri. Sebab sesuai aturan lalu lintas, mereka yang belum memiliki SIM tak berhak mengendarai kendaraan bermotor. Para siswa SMP dan sebagian SMA tak memiliki SIM karena belum cukup usia.

Para siswa yang belum dewasa ini juga dinilai masih belum memiliki kematangan psikologis. Mereka juga akan cenderung menyimpang jika mengendarai sepeda motor. Mulai dari ngebut sampai untuk gaya. “Ini sangat membahayakan. Belum lagi jika halaman sekolah dipenuhi motor, lalu lintas juga ribet,” katanya, kepada heibogor.com, Rabu (12/08/15).

Selain itu, katanya, agar orang tua lebih memberi perhatian pada anaknya dengan mengantar mereka ke sekolah. “Butuh perhatian serius orang tua agar melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya,” ujarnya.

Terkait dengan larangan tersebut, dia berjanji akan melakukan penertiban terhadap sekolah-sekolah yang masih membebaskan siswanya untuk membawa kendaraan bermotor. “Misalnya pemkot mengeluarkan larangan kepada pelajar, dan jika masih ada orang tua yang masih mengijinkan anaknya berkendaraan, maka harus diberikan sanksi,” tegasnya.

Dosen Sosiologi UIN Jakarta yang juga lulusan IPB ini menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mensosialisasikan aturan ini, serta memberikan sanksi bagi siswa yang masih menggunakan kendaraan ke sekolahnya. "Berikan aja sanksi, agar lebih disiplin," tuturnya.

Tantan menegaskan, dengan sendirinya pemerintah harus mengagendakan rejuvenasi atau peremajaan sarana transportasi publik. “Persoalan pelajar berkendaraan itu bukan hal kecil, karena menyangkut cara berpikir, budaya, dan juga identitas sosial,” tukasnya.

Sementara, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mengaku sudah memberikan surat edaran mengenai pelarangan penggunaaan kendaraan kepada pihak sekolah. Kepala Disdik Kota Bogor Edgar Suratman menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan larangan bagi pelajar agar tidak membawa kendaraan pribadi ke sekolah.

“Larangan tersebut memang sudah lama. Kami sudah mengirimkan surat kepada seluruh kepala sekolah SMP, SMA dan SMK negeri dan swasta,” katanya. Menurutnya, ia juga meminta kepada seluruh sekolah untuk mengawasi aktivitas siswanya agar tidak menggunakan kendaraan saat beraktivitas ke sekolah.

Edgar juga menghimbau kepada para pelajar untuk menggunakan kendaraan transportasi masal (angkot) apabila hendak berangkat dan pulang ke sekolah. “Bagi para pelajar bisa menggunakan angkot kalau mau pergi dan pulang sekolah,” sarannya.

Hal ini dikeluhkan sejumlah orang tua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bogor terkait kebijakan pelarangan membawa kendaraan bermotor ke sekolah tanpa dibarengi solusi dalam mengatasi dampak yang ditimbulkannya.

Menurut Sukaersih (41), salah seorang orang tua siswa di salah satu SMA Negeri menjelaskan bahwa, ia pernah diminta oleh pihak sekolah melarang anak laki-lakinya yang baru duduk di kelas X agar tidak membawa sepeda motor lagi ke sekolah.

Soal adanya pelarangan, ia juga menilai tidak ada masalah karena anaknya memang belum berumur 17 tahun dan belum memiliki SIM. “Yang jadi masalah, lokasi sekolah tempat anak saya belajar itu jaraknya jauh dari rumah, ongkos angkot juga mahal,” keluhnya.

Ia menambahkan, padahal sejak awal ia beralasan membelikan sepeda motor untuk anaknya yang belum genap 17 tahun itu agar tidak terlambat datang ke sekolah dan mengirit ongkos.

Sumber: bogor, wisata bogor, hotel bogor

1 year ago

Ayo Cegah Pelajar Bawa Kendaraan ke Sekolah

Termasuk peran guru yang juga semakin meluruh dihadapan siswanya. Hal tersebut dikatakan oleh pengamat pendidikan Tantan Hermansah, ia menjelaskan diperlukan peran dari berbagai pihak agar para pelajar tidak membawa kendaraan ke sekolahnya.

Larangan membawa sepda motor ke sekolah tersebut menurut dia diberlakukan demi keselamatan siswa sendiri. Sebab sesuai aturan lalu lintas, mereka yang belum memiliki SIM tak berhak mengendarai kendaraan bermotor. Para siswa SMP dan sebagian SMA tak memiliki SIM karena belum cukup usia.

Para siswa yang belum dewasa ini juga dinilai masih belum memiliki kematangan psikologis. Mereka juga akan cenderung menyimpang jika mengendarai sepeda motor. Mulai dari ngebut sampai untuk gaya. “Ini sangat membahayakan. Belum lagi jika halaman sekolah dipenuhi motor, lalu lintas juga ribet,” katanya, kepada heibogor.com, Rabu (12/08/15).

Selain itu, katanya, agar orang tua lebih memberi perhatian pada anaknya dengan mengantar mereka ke sekolah. “Butuh perhatian serius orang tua agar melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya,” ujarnya.

Terkait dengan larangan tersebut, dia berjanji akan melakukan penertiban terhadap sekolah-sekolah yang masih membebaskan siswanya untuk membawa kendaraan bermotor. “Misalnya pemkot mengeluarkan larangan kepada pelajar, dan jika masih ada orang tua yang masih mengijinkan anaknya berkendaraan, maka harus diberikan sanksi,” tegasnya.

Dosen Sosiologi UIN Jakarta yang juga lulusan IPB ini menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mensosialisasikan aturan ini, serta memberikan sanksi bagi siswa yang masih menggunakan kendaraan ke sekolahnya. "Berikan aja sanksi, agar lebih disiplin," tuturnya.

Tantan menegaskan, dengan sendirinya pemerintah harus mengagendakan rejuvenasi atau peremajaan sarana transportasi publik. “Persoalan pelajar berkendaraan itu bukan hal kecil, karena menyangkut cara berpikir, budaya, dan juga identitas sosial,” tukasnya.

Sementara, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mengaku sudah memberikan surat edaran mengenai pelarangan penggunaaan kendaraan kepada pihak sekolah. Kepala Disdik Kota Bogor Edgar Suratman menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan larangan bagi pelajar agar tidak membawa kendaraan pribadi ke sekolah.

“Larangan tersebut memang sudah lama. Kami sudah mengirimkan surat kepada seluruh kepala sekolah SMP, SMA dan SMK negeri dan swasta,” katanya. Menurutnya, ia juga meminta kepada seluruh sekolah untuk mengawasi aktivitas siswanya agar tidak menggunakan kendaraan saat beraktivitas ke sekolah.

Edgar juga menghimbau kepada para pelajar untuk menggunakan kendaraan transportasi masal (angkot) apabila hendak berangkat dan pulang ke sekolah. “Bagi para pelajar bisa menggunakan angkot kalau mau pergi dan pulang sekolah,” sarannya.

Hal ini dikeluhkan sejumlah orang tua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bogor terkait kebijakan pelarangan membawa kendaraan bermotor ke sekolah tanpa dibarengi solusi dalam mengatasi dampak yang ditimbulkannya.

Menurut Sukaersih (41), salah seorang orang tua siswa di salah satu SMA Negeri menjelaskan bahwa, ia pernah diminta oleh pihak sekolah melarang anak laki-lakinya yang baru duduk di kelas X agar tidak membawa sepeda motor lagi ke sekolah.

Soal adanya pelarangan, ia juga menilai tidak ada masalah karena anaknya memang belum berumur 17 tahun dan belum memiliki SIM. “Yang jadi masalah, lokasi sekolah tempat anak saya belajar itu jaraknya jauh dari rumah, ongkos angkot juga mahal,” keluhnya.

Ia menambahkan, padahal sejak awal ia beralasan membelikan sepeda motor untuk anaknya yang belum genap 17 tahun itu agar tidak terlambat datang ke sekolah dan mengirit ongkos.

Hal senada juga dikatakan Yulianti (38) salah seorang orang tua siswa di salah satu SMA swasta di kota Bogor, ia juga menilai larangan Disdik dirasakan belum memiliki solusi yang tepat. Sumber: bogor, hotel bogor, wisata bogor

1 year ago

Dari Gokart, Gerhard Lukita Kini Jajal Seri BMW

Muda dan berbakat. Itulah gambaran yang cocok disematkan kepada salah satu pembalap besutan ABM Motorsports, Gerhard Lukita. Meski usianya baru saja menginjak 15 tahun, namun sejumlah prestasi dari lintasan aspal pernah diraihnya sejak duduk di bangku SMP.

Mengawali karier di trek gokart saat berusia 10 tahun, membuat ia makin jatuh cinta kepada dunia balap. Terlebih, sang ayah Jimmy Lukita telah terlebih dahulu terjun dan menjadi salah satu tokoh balap senior di Tanah Air.

Dengan dukungan dari orangtua, karier cemerlang Gerhard pun berlanjut, kini ia makin mantap menjajal trek yang sesungguhnya dengan memacu mesin roda empat. Tahun 2015 menjadi langkah awal bagi Gerhard dengan turun pada ajang Indonesian Sentul Series of Motorsports (ISSOM).

“Waktu kecil memang sudah suka sama game balapan. Usia 10 tahun saya sudah dikenalkan dengan gokart. Kemudian usia 12 tahun makin jadi hobi sampai sekarang terjun ke lintasan besar dengan mobil besar pula. Tapi sempat vakum sebentar karena sekolah. Nah, sekarang turun lagi di ISSOM sejak awal 2015," kata Gerhard kepada heibogor.com, Minggu (23/08/15).

Tidak sekadar hobi, balapan pun bagi Gerhard menjadi sebuah ladang untuk menghasilkan prestasi di luar nilai akademis. “Ada kepuasan batin jika kita naik podium. Prestasi yang pernah diraih sejak mulai gokart, jika tidak juara 1, pasti juara 2 atau juara 3. Intinya naik podium,” kata Gerhard, lalu tersenyum bangga.

Dia mengaku, untuk prestasi di ajang balap mobil memang belum seindah gokart. “Di balapan mobil besar ini kan saya masih baru turunnya. Cari jam terbang dulu, evaluasi setiap race dan lain-lain,” imbuh pria kelahiran Jakarta, 4 Mei 2000 itu.

Meski ISSOM 2015 ini sebagai ajang pencarian jam terbang, namun untuk persiapan Gerhard bisa dibilang sangat serius. “Persiapan ISSOM serie ketiga ini tentunya mulai latihan hingga merapikan mobil agar siap turun. Soalnya di serie kedua kemarin sempat ada insiden tabrakan. Mudah-mudahan sekarang lebih siap,” terangnya.

Pada ISSOM 2015 serie ketiga ini, Gerhard akan menggunakan mobil BMW E63 tahun 1996 di kelas ETCC 2000 dan kelas Super Touring Championship. “Orangtua juga memberikan advice berupa ilmu di lintasan balap, strateginya dan lain-lain,” katanya.

Gerhard berpesan, bagi remaja lainnya yang memiliki hobi di dunia balap untuk tidak melakukannya di jalan raya. “Daripada ngebut di jalanan, lebih baik berprestasi di sirkuit karena lebih aman dan tidak mengganggu orang lain,” pungkasnya.

Sumber: bogor, wisata bogor, hotel bogor

1 year ago

Dari Gokart, Gerhard Lukita Kini Jajal Seri BMW

Muda dan berbakat. Itulah gambaran yang cocok disematkan kepada salah satu pembalap besutan ABM Motorsports, Gerhard Lukita. Meski usianya baru saja menginjak 15 tahun, namun sejumlah prestasi dari lintasan aspal pernah diraihnya sejak duduk di bangku SMP.

Mengawali karier di trek gokart saat berusia 10 tahun, membuat ia makin jatuh cinta kepada dunia balap. Terlebih, sang ayah Jimmy Lukita telah terlebih dahulu terjun dan menjadi salah satu tokoh balap senior di Tanah Air.

Dengan dukungan dari orangtua, karier cemerlang Gerhard pun berlanjut, kini ia makin mantap menjajal trek yang sesungguhnya dengan memacu mesin roda empat. Tahun 2015 menjadi langkah awal bagi Gerhard dengan turun pada ajang Indonesian Sentul Series of Motorsports (ISSOM).

“Waktu kecil memang sudah suka sama game balapan. Usia 10 tahun saya sudah dikenalkan dengan gokart. Kemudian usia 12 tahun makin jadi hobi sampai sekarang terjun ke lintasan besar dengan mobil besar pula. Tapi sempat vakum sebentar karena sekolah. Nah, sekarang turun lagi di ISSOM sejak awal 2015," kata Gerhard kepada heibogor.com, Minggu (23/08/15).

Tidak sekadar hobi, balapan pun bagi Gerhard menjadi sebuah ladang untuk menghasilkan prestasi di luar nilai akademis. “Ada kepuasan batin jika kita naik podium. Prestasi yang pernah diraih sejak mulai gokart, jika tidak juara 1, pasti juara 2 atau juara 3. Intinya naik podium,” kata Gerhard, lalu tersenyum bangga.

Dia mengaku, untuk prestasi di ajang balap mobil memang belum seindah gokart. “Di balapan mobil besar ini kan saya masih baru turunnya. Cari jam terbang dulu, evaluasi setiap race dan lain-lain,” imbuh pria kelahiran Jakarta, 4 Mei 2000 itu.

Meski ISSOM 2015 ini sebagai ajang pencarian jam terbang, namun untuk persiapan Gerhard bisa dibilang sangat serius. “Persiapan ISSOM serie ketiga ini tentunya mulai latihan hingga merapikan mobil agar siap turun. Soalnya di serie kedua kemarin sempat ada insiden tabrakan. Mudah-mudahan sekarang lebih siap,” terangnya.

Pada ISSOM 2015 serie ketiga ini, Gerhard akan menggunakan mobil BMW E63 tahun 1996 di kelas ETCC 2000 dan kelas Super Touring Championship. “Orangtua juga memberikan advice berupa ilmu di lintasan balap, strateginya dan lain-lain,” katanya.

Gerhard berpesan, bagi remaja lainnya yang memiliki hobi di dunia balap untuk tidak melakukannya di jalan raya. “Daripada ngebut di jalanan, lebih baik berprestasi di sirkuit karena lebih aman dan tidak mengganggu orang lain,” pungkasnya.

Sumber: kuliner bogor, hotel bogor, berita bogor